لاَ إِلَهَ إِلَّا الله المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ ۝ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَادِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنُ

Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Menguasai Lagi Maha Benar Muhammad adalah utusan Allah, Orang Yang Benar Janjinya lagi Dapat Dipercaya

Miftahul Jannah

Barangsiapa kenal dirinya, maka ia kenal dengan Tuhannya

Shalat

Ash Shalat

)    لصّلاة
Firman Tuhan di surat Al Baqarah ayat 238:

حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ ٢٣٨
Artinya :
“Peliharalah, shalat, teristimewa shalat-shalat yang paling baik (di tengah malam) dan tegaklah berdiri untuk Allah dengan khusu’  dan khudu` yakni tunduk jiwa.”
(QS. Al Baqarah [2]: 238)

Surat Al Ankabut : 45:

ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ ٤٥
Artinya :
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah  mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Ankabut [29]: 45)


Apakah “Shalat” itu ?

Ash Shalah adalah tiang Agama, yakni tiang Islam, apabila tiang yang dengannya berdiri sesuatu bangunan rubuh (tumbang), patah dan hancur, maka dengan sendirinya seluruh rangka-rangka bangunan itu roboh dan tumbang bertumpuk dan berhamburan ke tanah.

Tegasnya : bahwa shalat itu adalah pembuka pintu “ Surga ” (kebahagian), yakni shalat adalah batas-batas yang menentukan garis lintang antara iman dengan kufur, antara kaum yang dihukumkan mukmin dengan kaum yang tidak dipandang beriman.

Lebih tegas lagi bahwa shalat itu adalah tali perhubungan yang memperhubungkan seseorang hamba dengan Allah swt. yaitu Tuhan alam semesta.

Apabila seseorang hamba tegak di mushallahnya. Berdiri shalat berartilah ia tegak berdiri di hadapan Tuhan-nya untuk menyatakan dirinya dengan perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapannya yang memang sangat berhajat serta membutuhkan akan inayah dan taufik dari Ilahi Rabbi Yang Maha Besar sebagai seorang hamba yang lemah. Maka dengan jalan yang demikian ini, timbullah rasa taqwa dan rasa harap kepada Tuhannya.

Apabila perasaan ini telah berakar di lubuk jiwanya majulah ia terus menerus menegakkan shalat dan segala rupa kebajikan. Dan mundurlah ia dengan serta merta dari segala perbuatan keji dan munkar, inilah Ash-Shalah. Sebab itu shalat diperintahkan  kapada seseorang hamba memeliharanya dan wajib mengakui kehambaanya, maka shalat itu adalah tanda mengakui kehambaan diri pribadinya dan juga tanda mengakui adanya Tuhan yang disembah, dipuji, dan disanjung.

Bohonglah dan dusta seorang hamba kalau ia mengakui dengan lisannya bahwa ia sebagai hamba dan bahwa Tuhan yang Ma’bud (yang disembah) pujaannya yang berhak disembah olehnya, tetapi hamba itu enggan bershalat (sungkan) meletakkan dahinya ke tempat sujud untuk menyatakan kebenaran pengakuannya.

Tegasnya : apabila seseorang yang tidak mau menegakkan shalat, dia telah memutuskan perhubungannya dengan Allah swt. berarti ia tidak mau perdulikan kebesaran dan kemuliaan Allah -Tuhan alam semesta.



Firman Tuhan di dalam surat Hud ayat 114 :

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ١١٤
Artinya :
“Dan dirikanlah shalat pada dua tepi bagian siang dan disebagian dari malam karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejahatan-kejahatan, yang demikian itu satu peringatan bagi orang-orang yang mau ingat.”
(QS. Huud [11]: 114)

Dan firman-Nya lagi di surat Al Ankabut ayat 45 :


وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
Artinya
Bahwasanya dirikanlah shalat, karena sesungguhnya shalat itu bisa menghilangkan manusia dari kejelekan dan kemungkaran
(QS. Al Ankabut [29]: 45)

Tegasnya, dua ayat tersebut di atas adalah Allah swt. memerintahkan shalat sehari semalam 5 (lima) waktu yang difardlukan untuk menghilangkan kepada manusia segala amal yang jelek dan mungkar dan juga bahwa shalat adalah untuk menghasilkan beberapa hikmah dan rahasia yang sangat perlu bagi penghidupan manusia di dalam dunia ini.
a)    Memperingati manusia kepada Allah .
b)   Memperbesar jiwa manusia dari sifat-sifat kelemahan.
c)    Menghidupkan serta membangkitkan jiwa rasa tunduk kepada Allah swt.
d)    Menumbuhkan dalam lubuk jiwa, rasa kebesaran dan kemulian serta ketinggian Allah swt.
e)    Mendidik manusia menjadi tenang serta tabah menghadapi segala kesukaran dan kesusahan hidup dan penghidupan dengan jiwa teguh serta tetap.
f)     Menghilangkan sifat–sifat Thama’ (rakus).
g)    Membentengi manusia dari segala perbuatan keji dan jahat.

Yang lebih tegas lagi, ialah agama memerintahkan shalat untuk menghasilkan kebaikan bagi jiwa manusia dan kebaikan serta kebersihan bagi jasmani, yaitu kebaikan akhlak (budi pekerti) dan kebersihan jasmani, pakaian dan tempat dasar tujuan shalat, ketangkasan kecerdasan dan teratur rapihnya segala amal perbuatan, ringkasnya: Shalat adalah memperbaiki jiwa dari kesusahan-kesusahan yang mengekang nafsu manusia, ke dalam lembah kehinaan  dan kebinatangan. Shalat yang sedemikian inilah yang mendapatkan kemenangan bagi umat manusia dari dunia sampai di akhirat selalu ada dalam  bahagia.




Firman Tuhan dalam surat At Taubah ayat 103:

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ١٠٣
Artinya:
Dan do'akanlah olehmu atas mereka itu, karena sesungguhnya do'a engkau itu adalah satu ketentraman bagi mereka, sesungguhnya Allah itu amat mendengar lagi mengetahui.
(QS. At Taubah [9]: 103)

Dan surat Al Ahzab ayat 56:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦
Artinya :
Bahwasanya Allah dan para malaikat-Nya memuja dan menyanjung atas Nabi-Nabi.
(QS. Al Ahzab [33]: 56)

Dua ayat tersebut di atas nyatalah bahwa shalat adalah di dalam bahasa arab di jaman jahiliyyah diartikan do’a dan diartikan juga puji dan sanjung, maka kedua makna tersebut, terus dipakai Al Qur’an. Di dalam ayat pertama, kata shalat diartikan do’a dan di ayat yang lain menjadi tiang agama, yang difardlukan lima kali sehari semalam mengandung arti do’a dan puji kepada Allah swt danRasul Muhammad saw.

Maka apabila kita mendirikan shalat sebagai ibadah yang terpenting dan terpokok itu, berpindahlah kepada artinya dari pengertian bahwa manusia yang menegakkan shalat itu adalah ia berdo’a serta memuji kepada Allah swt dan kepada Rasul Muhammad saw. Oleh sebab itu pengertian shalat berdasarkan rupa (rangkaiannya) ialah beberapa ucapan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam yang dilaksanakan sebagai suatu ibadah menurut syarat yang telah ditentukan Allah swt. Dan telah dicontohkan oleh Nabi saw. semuanya adalah berisi do’a dan puji semata-mata. Jadi nyata pengertian shalat pada hakekatnya, bahwa shalat itu ialah menghadapkan jiwa kita kepada Allah swt. Yang menyertai rasa taqwa akan Dia yang menumbuhkan rasa kebesaran dan kekuasaan-Nya, Allah swt. Dan boleh diartikan juga bahwa shalat itu ialah melahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah swt, Tuhan yang kita sembah dengan beberapa perkataan dan beberapa gerak-gerik badan yang telah dipandang kongkrit.

Shalat yang demikianlah yang akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, sesuai dengan firman Allah di surat Al Mukminun ayat 1-3 :

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢  وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣
Artinya:
Sesungguhnya telah berbahagialah orang-orang mukmin yang shalatnya didalam khusuk yaitu orang-orang yang tidak menyia-nyiakan perkataan dan perbuatannya, Inilah shalat yang membawa manusia didalam kemenangan yang gilang–gemilang dimasa Rasulullah dan para sahabat–sahabatnya sehingga segala do’a dan mohonnya selalu dikabulkan oleh Allah swt.
(QS. Al Mukminuun [23]: 1-3)


Tegasnya, jiwa (ruhus shalat) tidak lain ialah menghadapkan jiwa kepada Allah dengan sepenuh jiwa raga, dengan khusuk dan ikhlas dengan memusatkan segala pikiran kepada Allah swt semata-mata (dengan kalbu yang tetap) serta merasai kebenaran dan kekuasaan Allah Rabbul Aalamiin, firman Tuhan surat An Nisa ayat 103 :

فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا 
Artinya :
Dirikanlah shalat, karena sesungguhnya shalat itu satu kewajiban yang telah ditentukan (difardlukan) atas orang-orang mukmin (waktu-waktunya).
(QS. An Nisa [4]: 103)

Apakah artinya mendirikan shalat? Dengan ayat tersebut di atas, Tuhan memerintahkan mendirikan shalat, bukan bershalat, oleh karena itu perlu kita mengetahui apakah yang dimaksudkan dengan perkataan mendirikan shalat.

Mendirikan shalat ialah:
a.    Memelihara waktu-waktunya.
b.    Menyempurnakan wudlunya dan melaksanakan dengan sempurna amal-amalnya (kelakuan didalam shalat).
c.    Menyempurnakan pemusatan jiwa.

Ringkasnya, mendirikan shalat ialah melaksanakan ruh (jiwa shalat) dan hakikat shalat agar didapati dan dicapai hikmah-hikmahnya dan rahasia-rahasianya.

Maka apabila seseorang melaksanakan shalat menurut kafiat yang telah ditentukan, tetapi kosong dari jiwa yang wajib ada beserta tubuh shalat itu. Dikatakan kepada ia bershalat bukan mendirikan shalat.

Adapun mendirikan shalat yang sebenarnya ialah menurut syara’ (syariat) dengan disertai khusuk dengan sungguh-sungguh menghadapkan diri kepada Allah diiringi dengan ihlas barulah ia dipandang mendirikan shalat. Inilah shalat yang diperintahkan kita mendirikannya dan dengan cara inilah berwujud shalat yang difardlukan. Shalat yang demikian inilah yang dikabulkan Allah swt. Segala mohonnya (do’a-nya). Sesuai dengan Hadits Nabi saw. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari Abu Hurairah menerangkan:

عَنْ ابى هريرة  أَنّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَاتَبَارَك وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَاحِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلاَخِرُ فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَاَسْتَجِبَ لَهُ,مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ,مَن يَسْتَغْفِرُنِي فَاَغْفِرَلَهُ (رواه البخاري)

Artinya:
Bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda, Tuhan Yang Maha Berbahagia dan Maha Tinggi menurunkan rahmat-Nya dan inayah-Nya kelangit dunia pada waktu yang ditentukan, yaitu pada waktu sepertiga malam yang terakhir, Tuhan berfirman: barang siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan do’anya, dan barang siapa meminta urusan pada-Ku, niscaya Aku kabulkan hajatnya itu, barang siapa minta ampun pada-Ku, niscaya Aku ampuni dosanya.
(HR. Imam Bukhari)

Begitupun Tuhan berfirman di surat Al Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦
Artinya : 
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu dari hal-Ku (keberadaan), maka katakanlah bahwasannya Aku adalah hampir, Aku sedia memperhatikan permohonan orang-orang yang memohon, tetapi apabila ia memohon sungguh-sungguh, oleh karena itu hendaklah mereka memperkenankan seruan-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar supaya mereka dapat jalan yang lurus. ”
(QS. Al Baqarah [2]: 186)

Tegasnya, dengan satu hadits dan satu ayat tersebut di atas. Shalat yang didirikan dengan khusuk dan diiringi dengan jiwa yang ikhlas pasti segala doanya dikabulkan Allah swt. Oleh sebab itu marilah kita dirikan shalat dan sempurnakan segala syarat-syarat sah daripada shalat yang diperintahkan oleh Allah swt. Dan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Sebelum melaksankan shalat, terlebih dahulu wajib membersihkan jiwa kita dari tiga macam kotoran :

Pertama : menghilangkan syirik artinya men-dua-kan Tuhan dengan makhluk (benda), yakni menganggap ada kekuasaan lain, selain daripada Allah. Penyakit ini adalah sangat  besar dosanya dan juga menimbulkan dilubuk jiwa manusia menjadi lemah dan penakut sesuai dengan firman Tuhan di surat Luqman ayat 13 :

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Artinya :
“Wahai anakku, janganlah engkau sekutukan Allah (syirik), karena sesungguhnya syirik itu satu penganiayaan diri yang besar.”
(QS. Luqman [31]: 13)

Kedua : Takabbur (sombong), yang dimaksud sombong ialah menghina sesama manusia yakni memandang rendah kepada orang lain dan menolak hukum yang benar (kebenaran). Sesuai dengan firman Allah swt. Di surat Luqman ayat 18 :

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨
Artinya :
Dan janganlah engkau palingkan pipimu (melengos) kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya Allah tidak suka pada tiap-tiap penyombong (congkak)
(QS. Luqman [31]: 18)

Dan dijelaskan pula oleh Nabi saw. Arti sombong didalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

اَلْكِبْرُبَطْرُالْحَقِّ وَغُمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم)
Artinya :
Sombong itu ialah menolak kebenaran dan menghinakan manusia
(HR. Muslim)

Ketiga : Riya (senang dipuji) atau selalu minta dipuji. Perbuatan ini sungguh perbuatan Iblis (Syaitan) sedang iblis itu adalah musuh manusia. Dan orang yang ria (senang dipuji) itu hidup dan matinya neraka (gelisah) firman Allah swt. Di dalam surat Al Ma’un ayat 6-7 :

ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦  وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ٧
Artinya :
Orang-orang yang mengerjakan kebaikan supaya dilihat orang (dipuji orang). Dan mereka tidak melakukan (mengeluarkan) bantuan, adalah neraka Wail tempatnya
(QS. Al Ma`un [107]: 6-7)
Maka setelah ketiga sifat yang ada di dalam lubuk jiwa tersebut dibersihkan, barulah kita penuhi syarat-syarat berwudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah swt. Di dalam surat Al Maidah ayat 6:

يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ
Artinya :
Wahai orang-orang mukmin! Apabila kamu hendak berdiri shalat hendaklah kamu terlebih dahulu berwudhu. Yaitu mencuci muka dan tangan-tangan kamu hingga batas siku-siku kamu. Kemudian sapulah kepala kamu, kemudian cucilah kaki-kaki kamu sampai dua mata kaki.
(QS. Al Maidah [5]: 6)

Dengan ayat tersebut, tegaslah bahwa tiap-tiap hendak mendirikan shalat diwajibkan orang-orang mukmin terlebih dahulu berwudhu, yaitu membersihkan jasmani dari najis (kotoran-kotoran) yang ada pada diri kita, inilah yang menjadi syarat syah dari pada shalat di dalam hukum syara’ dan juga harus bersih pakaian dan tempat shalatnya dan juga diwajibkan menutupkan auratnya, yaitu bagi laki-laki ialah antara pusar dan lutut, tetapi bagi perempuan yaitu menutup seluruh anggotanya, kecuali wajah, dua telapak tangan dan kaki yang boleh terbuka. Setelah itu barulah kita hadapkan diri kita ke qiblat. Demikian keringkasan petunjuk dari Rasulullah saw. Didalam mendirikan shalat menurut syariat.

Tetapi pada hakikatnya, terutama ialah bersihkan wajah (panca indra) dari segala pandangan dan perbuatan-perbuatan yang kotor (najis) yakni segala maksiat. Bersihkan tangan dari memegang dan mengambil hak orang lain kemudian sapulah kepala kita dari segala ingatan-ingatan dan pikiran-pikiran yang jahat dan buruk, lalu bersihkan kaki kita dari pada jalan dan langkah-langkah yang tidak baik dan tidak benar, inilah hakikat dari pada berwudhu yang diamalkan serta di contoh oleh Nabi saw., oleh karena itu Nabi saw. Pernah bersabda di dalam Haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِاسْمَ اللهِ عَلَيْه (رواه أحمد)
Artinya :
Tidak sah shalat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu baginya orang yang tidak menyebut (mengingat) nama Allah        
(HR. Imam Ahmad).


Maksudnya : tidak ada wudhu (tidak bersih) orang yang tidak berwudhu (membersihkan) jasmaninya dan jiwanya dari kotoran-kotoran lahir dan batin, berarti tidak sah shalatnya terutama apabila ia tidak mengingat atas kekuasan Allah swt. Di dalam segala amal yang akan dikerjakannya. Sebab itu pada syariatnya dahulukan menyebut :
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Artinya :
Dengan nama Allah, saya berbuat (beramal) membersihkan diri saya dari segala kotoran-kotoran lahir dan batin ini, adalah atas kekuasaanya yang bersifat Pemurah dan Pengasih, hingga semua amal yang saya lakukan ini, se-mata-mata karena Allah dengan ikhlas (suci) yakni tidak karena sesuatu, selain menurut perintah Allah swt.

Setelah ini kita laksanakan, barulah kita berdiri menghadap qiblat sesuai dengan sabda Nabi saw. Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, demikian :

إِذَاقُمْتَ إِلَى الصَّلو ةَ فَاسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثمُّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ (رواه مسلم)

Artinya :
“Apabila engkau hendak berdiri shalat, hendaknya engkau sempurnakan wudhu, kemudian engkau menghadap qiblat lalu engkau takbir, yaitu takbiratul ihram yakni memyebut “ Allahu Akbar ”.
(HR. Imam Muslim)

Menyebut Allahu Akbar di permulaan, itu dinamakan takbiratul ihram. Artinya takbir buat masuk mendirikan sesuatu yang mulia tempatnya ialah di permulaan saja, yang dinamakan takbiratul ihram sebagaimana hadits Nabi saw. Diriwayatkan oleh Imam Muslim :

قَالَت عَائشَةَ كَانَ النَّبِيِّ صلى الله عليه يَسْتَفْتِحُ الصَّلَوةَ بِالتَّكْبِيْرِ (رواه مسلم)
Artinya :
Telah berkata Aisyah, Adalah Nabi saw. Biasanya memulai shalat dengan takbir.
(HR. Imam Muslim)

Tegasnya, setelah kita berwudlu barulah mulai berdiri menghadap qiblat untuk mendirikan shalat, marilah kita sekarang meneliti apa rahasia yang terkandung didalam shalat itu.

Berdiri yang dimaksudkan itu ialah jiwa manusia yang harus tegak dengan lurus di dalam pemusatannya penuh keyakinan, bahwa mereka sedang menghadap kepada Allah swt. Serta yakin bahwa ia sedang diperhatikan oleh Allah swt.

Firman Tuhan dalan surat Al Furqaan ayat 20 :
وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرٗا ٢٠
Artinya :
Adalah Tuhanmu itu melihat (memperhatikan) keadaanmu itu.
(QS. Al Furqaan [25]: 20)

Maka dengan keyakinan ini, sebagai seorang hamba yang mukmin, terus memperlihatkan kehambaannya serta menyerahkan dirinya sambil mengangkat kedua tangannya menurut yang dicontohkan oleh Rasul-Nya, sesuai dengan Hadits Nabi saw. Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

قَالَ إِبْنُ عُمَر كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه إِذَا قَامَ لِلصَّلَوةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُوْنَ حَذْوَمَنْكِبَيْهِ ثُم كَبَّرَ  (رواه مسلم).
Artinya:
Telah berkata Ibnu Umar ra. : Adalah Rasullah saw. Apabila berdiri hendak shalat, ia angkat kedua tangannya hingga berbetulan (sejajar) dengan dua bahunya kemudian Ia takbir.
(HR. Imam Muslim)

Tegasnya menurut Hadits tersebut setelah hamba menyerahkan dirinya sambil mengangkat kedua tanganya, ia berkata: kepada Engkaulah wahai Tuhan, Allahu Akbar- yaitu Allah Tuhan Yang Maha Besar, aku serahkan diriku dengan sepenuh jiwa ragaku di dalam segala amalku ini, serta ia menundukkan kepalanya sambil meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas perutnya sambil ia berkata: Wahai Tuhan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
Artinya :
Maha suci Engkau hai Tuhanku dengan memuji-Mulah aku memulai ibadat ini dan Maha Bahagialah nama-Mu dan Maha Tinggi kemulyaan-Mu dan tidak ada Tuhan               (Kekuasaan) yang lain yang patut aku taati, selain dari pada-Mu.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya: Wahai Tuhan! Aku mohon perlindungan diatas kekuasaan-Mu, dari segala syaithan (kejahatan) yang terkutuk yang dapat menibulkan segala amal yang berdosa.
-          Karena aku ini adalah hamba yang tidak berdaya.
-          Untuk menghadapi iblis punya tipu daya.
-          Selain dari perlindungan-Mu Yang Maha Kuasa.
-          Oleh sebab itu atas nama Allah aku beribadat, Tuhan yang bersifat Pemurah lagi Pengasih.
-          Sepenuh jiwa ragaku adalah untuk aku berbakti.
-          Karena segala dosaku terasa tidak dapat aku lewati.
-          Jika tidak karena Engkau Tuhan rahmati.


Kemudian Tuhan berfirman kepada hamba-Nya yang taat dan berbakti: Wahai insan! Jika demikian ikrarmu memang selayaknyalah:
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ
Puji itu adalah bagi-Ku dan kepada-Ku sajalah yang wajib engkau puji, karena Akulah:
رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
Pemelihara, Pengawas, bagi segenap alam semesta, sebab sifat-Ku:
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Pemurah tidak pilih kasih, segenap mahluk Aku beri rejekinya masing-masing menurut ketentuan dari pada-Ku, tetapi kasih-Ku adalah tertentu kepada hamba-hamba-Ku yang mukmin, oleh sebab itu jangan kamu mati sebelum engkau menjadi orang-orang muslim  (menyerah diri) sebab Aku-lah:
 مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ
Yang Maha Kuasa, merajai dihari pembalasan untuk membalas segala amal (perbuatan) manusia.

Berkata hamba yang mukmin: Jika demikian kekuasaan-Mu Wahai Tuhan:
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ
Engkau sajalah yang aku sembah dan mengabdi

وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
Dan juga wahai Tuhan! Kepada Engkau pulalah yang aku mintai pertolongan didalam segala amal perbuatan,Wahai Tuhan yang bersifat pemurah dan pengasih.

ٱهۡدِنَاٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ
Tunjukanlah aku jalan-Mu yang benar dan lurus, yaitu:

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ
Jalan–jalan mereka, orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atasnya, sehingga hidup dan penghidupannya dicurahkan semata-mata untuk mendapatkan karunia dan keridlo’an dari pada-Mu.

غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ
Bukan jalan mereka yang Engkau murkai atas mereka.

وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
Dan bukan yang Engkau sesatkan.
أمِيْنِ
Wahai Tuhan Yang Maha Bijaksana, terimalah (perkenankanlah) ucapanku ini.

Kemudian Tuhan berfirman kepada hamba-Nya, jika demikian mohon dan ucapanmu wahai insan! Dengarkanlah anjuran-Ku ini:
وَٱلۡعَصۡرِ
Perhatikanlah masa (waktu) dan hargailah masa hidupmu.

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ
Karena sesungguhnya manusia itu ada di dalam kerugian.

  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
Kecuali orang-orang yang mukmin.

وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ
Dan mereka mengerjakan pekerjaan yang baik-baik.

وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ
Dan selalu nasihat menasihati kepada yang lain di jalan kebenaran.
وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ
Dan selalu menasihatkan kepada yang lain di dalam menjalakan kesabaran.

Jika demikian anjuranmu Wahai Tuhan, selayaknya aku patuhi serta aku menyatakan dengan amalku ruku (membungkukkan) jasmaniku sambil aku ucapkan Allahu Akbar :
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ
Maha suci Tuhanku Yang Amat Mulia.

Berulang kali aku ucapkan (3 sampai 10 kali).

Jika demikian wahai Insan, kata Tuhan : cobalah engkau bangkit dari rukukmu itu!

Kemudian dijawab oleh hambanya seraya bangkit dari ruku` dengan mengucapkan :

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Mudah-mudahan Allah memperhatikan (memperkenankan) bagi orang yang memuji-Nya.

Berdiri dengan melepaskan tangan tergatung, itu dinamakan berdiri I’tidal sambil berkata :

رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ
Wahai Tuhan kami, kepunnyaan-Mu-lah sekalian puji-pujian. Jika demikian yang engkau pujian wahai Insan! Cobalah engkau sujud.Maka hamba yang taat, terus mengucapkan Allahu Akbar sambil sujud dengan memuji:

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلى
Maha Besar Engkau wahai Tuhan dan maha suci Tuhan-ku yang terlebih tinggi berulang-ulang 3 sampai 10 kali “ Maha Suci Tuhan-ku Yang Maha Tinggi.

Kemudian duduklah wahai hamba-Ku! Mohonlah engkau ampunan pada-Ku dengan engkau ikrarkan.

Sambil duduk dari sujud hamba yang taat memohon dihadapan Tuhan seraya berkata :
رَبِّ اغْفِرْلِى رَبِّ اغْفِرْلِى
Wahai Tuhanku! Ampunilah aku-ampunilah aku.

رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي

Wahai Tuhanku! Ampunkanlah aku, dan kasihanilah aku, dan cukupkanlah aku, dan pimpinlah aku, dan karuniailah aku.

Demikianlah diulangi dua kali dalam shalat subuh setelah itu barulah duduk tahiyat akhir sambil mengucapkan:

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَاالنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُاَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّالله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِمُحَمَّدٍ كَمَاصَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ. كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Artinya:
Wahai  Tuhan! Sekalian bakti ucapan dan sekalian bakti badan dan sekalian bakti harta itu, adalah layak kepada Allah. Mudah-mudahan turun sejahtera atas  kami dan atas hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku mengaku dan menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang sebenar-benarnya diatas alam cakrawala ini yang harus kutaati dan kupatuhi perintah-Nya serta yang aku sembah, melainkan Allah. Dan aku mengaku bahwasanya Nabi Muhammad itu hamba-Nya dan pesuruh-Nya. Wahai Tuhan-ku! Berilah rahmat atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi karunia atas Nabi Ibrahim, dan berilah karunia atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau memberi karunia atas Nabi Ibrahim. Karena Sesungguhnya Engkaulah yang amat terpuji yang amat mulia.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ
Artinya :
Mudah-mudahan sejahtera dari Allah atas kamu, begitu pula rahmat dari Allah dan karunia-Nya.  

Waktu memberi salam itu hendaklah memalingkan muka kekanan dan kekiri. Inilah akhir daripada shalat subuh.

Kesimpulan:

Bahwa shalat yang diwajibkan atas manusia itu adalah satu tali perhubungan umat kepada Allah untuk menyatakan diri kepada-Nya yang memang umat sangat berhajat kepada-Nya. Inilah shalat yang mendapatkan hikmat dan rahasia-Nya.
-          Kepada Allah Tuhan Pecipta.
-          Pemberi nikmat kepada manusia.
-          Akan hamba-Nya, terutama yang taat kepada-Nya.
-          Wahai Tuhan, aku bersyukur dari jiwa dan kata.
-          Wahai Tuhan yang Maha Sakti.
-          Sungguh sedikit sekali hamba berbakti.
-          Jika tidak Engkau rahmati.
-          Segala dosaku tidak dapat aku lewati.
-          Heran aku pikirkan cinta kasih-Mu.
-          Tak pandai aku puji atas kurnia-Mu
-          Atas sekalian limpah rahmat-Mu.

-          Di mana–mana aku dapat bertemu.